Seringkali orang dalam mencari rezeki menghalalkan segala cara, sikut kiri kanan, injak bawah, jilat atas dsb, tidak lain karena mereka belum menyadari sepenuhnya bahwa rezeki itu sudah ada yang mengatur. Dan yang pasti tidak pernah salah alamat. Jika memang itu rezeki kita, maka tentu akan sampai juga ke kita. Tapi bukan berarti lantas kita berdiam diri saja, tetap harus berusaha.

Jika saja konsep “rezeki tidak pernah salah alamat” ini benar-benar diresapi, maka fokus kerja kita sebenarnya menjadi jauh lebih ringan. Kok bisa? Karena ada satu bentuk keyakinan bahwa sudah pasti ada jatah rezeki untuk kita. Kita tinggal fokus saja kepada bagaimana cara menjemput rezeki tersebut. Seperti kata AA’ Gym di salah satu acara tausiah,

“Sebenarnya bukan mencari rezeki, tapi menjemput rezeki. Karena tiap manusia sudah ada jatahnya masing-masing.”

Alkisah, seorang kakek bersama cucunya. Mereka sedang jalan-jalan dengan mengendarai mobil. Tiba-tiba salah satu ban mobil tersebut pecah sehingga mereka terpaksa menepi.

Kakek dan cucu itu kemudian mencari pertolongan untuk membantu mengganti ban mobil. Yah, maklumlah, si kakek sudah cukup tua hingga kurang bertenaga dan si cucu terlalu kecil untuk mengganti ban mobil yang pecah tersebut. Tidak selang beberapa lama datanglah seseorang untuk membantu mereka berdua. Yah, seseorang yang masih peduli di tengah acuhnya orang lain terhadap kakek cucu tersebut.

Adzan Duhur berkumandang, sang kakek pun mengajak cucunya untuk shalat terlebih dahulu di masjid. Mereka pun menitipkan mobil tersebut kepada orang yang membantu mengganti ban tersebut. Ternyata agak lama sejak kakek dan cucu tersebut shalat di masjid, orang ini tiba-tiba melepas kembali ban mobil tersebut dan membawanya kabur. Ia kemudian menjual velg mobil tersebut dan mendapatkan uang 100ribu.

Di masjid usai shalat, sang Kakek berbicara kepada cucunya. “Cu, orang tadi baik hati ya. Sementara orang lain cuek kepada kita, dia dengan senang hati mau membantu kita. Kakek ingin memberikan uang 100ribu kepada orang itu.” Mereka berdua pun kembali ke mobilnya. Mereka terkejut, karena salah satu ban mobil hilang. Ternyata orang yang membantu tadi tidak benar-benar tulus. Ah, sungguh disayangkan.

Dari kisah di atas kita bisa belajar bahwa sesungguhnya rezeki orang yang membantu mengganti ban mobil si kakek sudah ditetapkan, yakni 100ribu. Namun, alangkah sangat disayangkan karena cara menjemputnya tidak halal. Andai dia bisa menjaga amanah, tentu akan sama-sama mendapatkan 100ribu tapi dengan jalan yang diridhoi olehNya.

Lantas, jika memang rezeki sudah ditetapkan bukankah tidak adil jika ada yang ditetapkan rezekinya banyak sementara yang lain seret. Yang saya tahu (diajari guru agama) sejak ruh ditiupkan ke rahim ibu, maka saat itu ditetapkan bagi sang bayi umur, rezeki, dsb. Makanya ketika wanita sedang hamil amat disarankan dia dan suaminya untuk terus mendoakan agar anak yang dikandung tersebut dikaruniai rezeki yang melimpah.

Namun, bukan berarti ketika sudah ditetapkan tidak bisa berubah. Itu semua adalah hak prerogatif Allah, Sang Pemberi Rezeki. Kadang-kadang ada lho yang tadinya ditetapkan banyak rezekinya tiba-tiba seretnya bukan main karena yang bersangkutan melakukan hal-hal yang menghalangi rezeki. Coba Anda baca artikel saya tentang “5 Penghalang Aliran Rezeki”. Ada juga yang mungkin ketika awal ditetapkan rezeki pas-pasan, namun pada akhirnya dia hidup berkelimpahan karena senang berbagi dan menolong orang lain, taat pula dalam menjalankan ibadah agama.

Yang pasti, kuncinya ada di tangan Allah Sang Pemberi Rezeki. Maka jika rekan-rekan merasa saat ini rezeki seret dan kurang lancar, mendekatlah kepada Dia. Berdoa dan mintalah kepadaNya. Introspeksi diri juga, mungkin ada yang kita lakukan tidak pas di mata Dia.

Bisa juga ketika Anda meminta namun tidak diberi, tidak lain karena waktunya kurang pas. Bukankah Allah Maha Tahu. Dia tahu yang terbaik dan tahu kapan waktu yang tepat untuk memberikannya kepada kita. Atau bisa jadi, dia tidak memberikan kita rezeki melimpah karena mungkin itu akan membawa kita kepada kekufuran dan menjauhkan kita dari Nya.

Seperti kata Mario Teguh,

“Manusia suka lupa pada Tuhannya manakala dia hidup senang. Namun tak pernah lupa ketika Tuhan memberikan kesusahan kepadaNya. Nah, daripada Tuhan memberikan kesusahan agar kita senantiasa mengingatnya, bukankah lebih enak kita selalu mengingatnya dalam keadaan susah dan senang. Sehingga tidak dicabut kenikmatan akan kesenangan yang kita dapatkan dikarenakan kita tidak pernah melupakanNya.”


semoga bermanfaat
dini / http://www.mothersproject.weebly.com
3/16/2013 06:28:02 pm

Nice story. Humble.

Reply



Leave a Reply.